RSS

temanku yang tak pernah berubah

Aku mempunyai teman yang bernama Aditya Satria Pratama, biasa dipanggil Adit. Dia temanku sejak SD dan satu sekolah hingga SMA. Dari kelas 1 hingga kelas 4 SD, kami adalah teman sekelas, walaupun tidak begitu dekat. Tapi kelas lima, Adit ditempatkan di kelas yang berbeda denganku, dia di kelas 5A dan aku di kelas 5B. Walaupun kami jadi jarang bertemu karena letak kelas 5A yang berada di lantai dua dan kelas 5B yang berada di lantai dasar, setiap berpapasan di kantin atau lingkungan sekolah, dia selalu menyapaku.

Begitu juga saat kelas 6, aku di kelas 6A dan Adit di kelas 6B. Sejak saat itulah, entah kenapa walaupun kelas kami letaknya bersebelahan, aku jadi sangat jarang melihat Adit. Apakah mungkin karena dia jarang keluar kelas? Aku juga tidak tahu pasti, yang jelas kami jadi jarang bertemu. Dan setahuku, waktu kelas satu hingga kelas empat, Adit adalah anak yang biasa-biasa saja, tidak sangat pintar. Namun sejak kelas 6, tersiar kabar bahwa Adit menjadi jenius. Ya, semester satu dan dua dia mendapatkan peringkat dalam 3 besar. Aku juga tidak tahu kenapa.

Adit masuk SMP yang sama denganku, SMP 19 Jakarta. Kita tidak satu kelas waktu kelas 1, namun saat kelas 2, kami sama-sama masuk kelas unggulan, bedanya dia masuk kelas unggulan II dan aku masuk kelas uggulan II. Aku sepertinya tidak pernah bertemu Adit selama dua tahun itu karena letak kelas kami selalu berjauhan, saat di kantin atau di lingkungan sekolahpun aku tak pernah bertemu dengannya. Hingga saat kelas 3, hanya ada satu kelas unggulan yang isinya terdiri dari anak-anak kelas unggulan I dan II. Aku dan Adit menjadi sekelas sejak saat itu.

Aku kaget, ternyata setelah sekian lama tidak bertemu Adit, dia masih menganggapku teman seperti saat kami masih SD, tidak ada yang berubah darinya. Karena aku pikir, orang yang sudah lama tak bertemu dan akhirnya bertemu kembali biasanya akan canggung atau merasa sungkan, tapi tidak dengan Adit. Dan selama aku sekelas dengannya, aku jadi berpikir bahwa rumor yang beredar saat kelas 6 SD itu benar. Adit jadi sangat pintar. Dia selalu mendapatkan nilai yang bagus. Saat itu aku iseng bertanya padanya. Aku bilang dengan jujur bahwa sepertinya Adit jadi tiba-tiba jenius sejak kelas 6. lalu ia menjawab: ”iya emang lagi, bener. Pas itu ibu gw marah gara-gara ga dapet ranking, yaudah akhirnya gw belajar terus semenjak itu, sampe sekarang.”

Di SMA pun, kami tidak pernah sekelas. Namun aku lebih sering bertemu dengannya saat SMA ini dibandingkan saat SMP kelas 1 atau 2. Dan sering juga aku dengar bahwa Adit sudah seperti asisten guru. Banyak guru yang senang minta tolong padanya karena mereka menyukai pekerjaan Adit. Tak diragukan lagi Adit pintar dan supel. Saat memilih universitas pun, banyak universitas yang menerimanya, baik itu melalui PMDK atau tes. Akhirnya dia memilih UI Teknik Elektro, jalur PMDK.

Yang menginspirasiku dari Adit adalah walaupun dia pintar, dia tidak pernah sekalipun menjadi sombong. Tetap seperti dia apa adanya. Karena tidak jarang kita temukan teman kita yang pintar namun dia sombong. Ia menginspirasiku agar sepintar apapun kita, jangan pernah menjadi sombong, karena di atas langit masih ada langit. Aku juga berharap ketika kita sudah menjadi orang yang sukses kelak, semoga kita tidak menjadi orang sombong seperti kacang yang lupa kulitnya. Amin.

 

Posted by on 16 September 2010 in cerita inspirasi

Leave a comment

friendship never ends

Dari dahulu, aku punya teman yang bernama Fitria. Kami berteman sejak kelas 1 SMP. Hal itu berawal dari kegemaran kami yang sama, yaitu film animasi asal Jepang atau yang juga biasa disebut anime. Aku sebenarnya tidak pernah berjabat tangan untuk berkenalan sebelumnya, karena saat itu Fitria tiba-tiba saja datang saat aku sedang asyik membicarakan tentang anime dengan yang lain. Pada akhirnya kami menjadi teman dekat hingga sekarang, aku juga menganggapnya sahabat. Namun, persahabatan kami tidak mulus seperti jalan yang lurus.

Waktu awal kelas 1 SMP, kami selalu bermain bersama, setiap hari saat istirahat kami selalu makan di kantin bersama dengan yang lain, walaupun kami beda kelas. Kami seperti punya tempat janjian tersendiri, yaitu di bangku depan kolam ikan. Dia selalu menungguku di sana. Kami juga masih sering membicarakan tentang anime dan semacamnya. Sampai akhirnya aku mulai tidak suka dengan sikap Fitria, entah kenapa rasanya dia menjadi sangat sok tahu dan suka mengatur. Tapi aku tidak mengutarakan itu padanya dan tetap berteman dengannya walaupun kadang aku harus menyimpan rasa kesalku. Dan akhirnya sampai kesabaranku habis, aku jadi anti dengan yang namanya anime, hanya karena Fitria. Mungkin kedengarannya memang berlebihan, tapi memang itu kenyataannya. Aku pun beralih ke band Jepang, saat itu yang kusuka adalah L’arc~en~Ciel. Tapi aku masih tetap berteman dengannya.

Saat dia mengetahui bahwa aku sudah beralih, aku tidak tahu apa alasannya namun tiba-tiba dia juga menyukai band tersebut dan meninggalkan anime sepertiku. Ya, bahan pembicaraan kita pun mulai berubah dari anime ke band saat itu. Dan tidak kuduga, sifat sok tahunya muncul kembali. Aku tidak tahu mungkin hanya bagiku, dia terlihat seperti ingin menunjukkan “aku fans paling hebat”. Kemudian aku mulai meninggalkan L’arc~en~Ciel serta band lain yang disukainya juga dan beralih ke sebuah band yang sampai sekarang masih jadi band favoritku, Dir en Grey. Tetapi kali ini aku berusaha agar dia tidak mengetahuinya, karena aku tidak ingin meninggalkan Dir hanya karena Fitria, seperti band-band lainnya. Aku memang seperti itu, kalau orang lain mengikutiku, aku jadi tak tertarik lagi dan akan menggantinnya dengan hal baru. Apalagi ini bukan yang pertama kalinya, sudah berkali-kali aku jadi tidak suka dengan sesuatu karena dia.

Namun ternyata usahaku gagal. Saat itu awal kelas 3 SMP, ada acara internal di sekolah sehingga tidak ada pelajaran sepanjang hari dan tiba-tiba seorang guru memanggilku untuk membantunya. Aku pun buru-buru ke sana dan lupa bahwa aku meninggalkan CD-case ku yang berisi CD lagu band favoritku di meja teman yang sekelas dengan Fitria, saat itu juga ia sedang berada di sana. Saat acara tersebut berakhir, semua murid sudah pulang, aku tidak dapat menemukan CD-case ku yang tertinggal.

Keesokan harinya, Fitria datang ke kelasku dan menyerahkan barang-barangku termasuk CD-case yang tertinggal kemarin. Aku berterima kasih padanya dan semuanya berjalan seperti biasa hingga jam istirahat saat aku menemukan sesuatu di ipodnya. Banyak lagu dari Dir en Grey disana. Aku tidak ingin berprasangka buruk dan kata-kata yang keluar dari mulutku hanyalah “suka Dir juga ya?” dan jawaban yang kudapat adalah “iya, banget!” ya, walaupun sedikit kecewa, aku masih berusaha bersikap seperti biasa.

Namun yang membuatku kaget adalah saat aku tiba di rumah hari itu, Fitria mengirim sms padaku yang isinya:

“Cit, maaf ya sebenernya tu lagu-lagu gw ambil dari CD lu kemaren, hehe”

Ternyata dugaanku sebelumnya benar. Saat itu aku sangat marah padanya. Bukan hanya karena dia ‘mencuri’ lagunya tanpa seizinku, tapi aku pikir tidak sopan kalau membuka barang pribadi milik orang lain tanpa izin terlebih dahulu. Sejak hari itulah, aku selalu menghindari Fitria setiap kali bertemu, dan setelah sekian lama, sms-sms pemintaan maafnya pun tak pernah kubalas.

Aku sangat keras kepala waktu itu, aku menganggap Fitria bukan lagi temanku melainkan musuhku. Kemudian akupun mencari teman lain, namanya Adiyanti Firdausi, biasa dipanggil Usi. Lama kelamaan kami menjadi dekat karena memang kami sekelas dan sering belajar bersama. Setiap istirahat pun, kami selalu turun ke kantin bersama dan memakan jajanan kami di kelas. Bisa dibilang hidupku kembali tentram, setelah kejadian yang kira-kira sudah terjadi beberapa bulan itu. Awalnya kukira begitu, namun ternyata aku menemukan bahwa Fitria seperti menghasut Usi untuk menjauhiku, Usi sendiri yang bilang begitu padaku. Usi pernah sempat mengobrol dengan Fitria dan dia bilang padaku bahwa Fitria menceritakan banyak hal tentangku. Aku sendiri tidak tahu persis apa yang dikatakannya kepada Usi namun hal ini membuatku marah kembali padanya. Aku dengan berat hati mencoba menghubunginya dan menanyakan apa maksud sebenarnya. Dan saat ditanya, ia menjawab: “gw cuman iri, abis gw udah minta maaf lu gada respon. Maaf Cit..” lalu aku bilang padanya aku juga sebal kalau aku diikuti, seperti yang pernah dia lakukan, kemudian dijawabnya: “abis gw pikir gw harus suka apa yang lu suka biar bisa jadi temen lu. .” emosiku semakin naik saja mendengar jawabannya, aku tidak pernah sekalipun berkata seperti itu atau bermaksud seperti itu. Aku tidak pernah membeda-bedakan teman hanya dari kegemarannya. Jadi kali ini aku juga belum bilang bahwa aku memaafkannya. Aku tau memang aku salah karena tidak memaafkannya saat itu, tapi aku tidak peduli, karena waktu itu kata maafnya seperti tidak punya arti bagiku. Aku tetap belum kembali berteman dengan Fitria, walaupun sudah banyak kata maaf yang telah diucapkannya untukku.

Sampai akhirnya suatu hari, saat aku sangat membutuhkan bantuan untuk mengerjakan sesuatu, Fitria lah yang pertama kali datang menolongku. Saat itu aku agak sungkan dan terkejut, ternyata dia tidak marah kepadaku karena aku tidak merespon permintaan maafnya. Dari situlah akhirnya aku sadar dan meminta maaf, selama ini selalu menghindarinya.

Kami pun bersahabat kembali, ia jadi sering mampir ke kelasku lagi dan mengobrol dengan yang lain, termasuk Usi. Aku juga merasakan ada yang sedikit berubah padanya. Fitria tidak pernah lagi bertindak egois dan suka mengatur seperti dulu. Hingga kami lulus SMP, kita bertiga menjadi teman dekat. Tapi sayangnya aku masuh SMA yang berbeda dengan mereka berdua. Aku di SMA 70 dan mereka di SMA 6 Jakarta. Namun, hal itu tidak menjadi hambatan bagi kami untuk saling berhubungan. Walaupun sekarang kami sudah agak jarang bertemu, tapi persahabatan kami akan tetap selalu ada.

Dari sini aku menyimpulkan, jangan pernah menganggap orang lain sebagai musuh. Karena tidak ada satupun manusia yang bisa hidup sendiri, mereka akan selalu membutuhnya bantuan dari sesamanya. Jika di sekelilingnya hanya ada musuh, siapakah yang akan menolongnya? Aku bersyukur karena Allah telah memberiku sahabat yang walaupun aku sangat keras kepala, ia bisa bersabar dan selalu menunggu maafku. Maka dari itu, jangan pernah bersikap egois dan berusahalah untuk selalu jadi yang terbaik untuk orang lain.

 

Posted by on 16 September 2010 in Academic

Leave a comment